Wednesday, October 5, 2016

NEGERI DIATAS AWAN, TERASING DI NEGERI SENDIRI.

Catatan kecil perjalanan :

....... Suatu hari, di tahun 2003.
Mobil Jip Long Chasis berwarna putih yg diimport dari Australia itu membawaku dari Kota tempat Pesawat mendarat di Pulau terbesar, di ujung timur negeri ini..

Mobil melintasi tanjakan-tanjakan terjal,, meliuk-liuk tikungan-tikungan. Jalan aspal mulus, diiapit kiri-kanan Hutan Lebat, belantara yg masih perawan.

Untuk bisa memasuki jalan ini, kita harus mengajukan ijin beberapa bulan sebelumnya.
Di beberapa tempat, jalan ditutup, harus melintas Pintu Peneriksaan yg di jaga oleh satuan Tentara. Pemeriksaan ini bukan hanya sekali, dua kali, tetapi berberapa kali . Sungguh suatu penjagaan yg super ketat !

Dalam benak aku berada di tengah hutan belantara, tetapi setelah beberapa waktu, ........... setengah terbelalak, ..... dihadapanku, sebuah kota kecil yg tertata rapi dengan pemandangan seperti di perumahan Negara para Bule !

Area Komplek kotak-kotak, terbelah jalan yg mulus, Rumah-rumah bercat putih tanpa pagar satu sama lain.


Ada Minimarket, ATM, Lapangan Olah Raga beralas rumput sintetis, Stasiun Radio FM, lengkap layaknya fasilitas di kota besar !
Hilir mudik orang-orang Bule, aku merasa menjadi orang asing yg berada di Negara asing, Negara kecil yg berada di pedalaman Negeri sendiri !

Bermalam di kamar yg Kulkasnya dipenuhi berbagai minuman. Esok paginya, bermodal Kartu Akses yg sdh diterima beberapa hari sebelumnya, aku berkeliling "Negeri asing kecil " itu. Sepanjang Kartu Akses itu bisa membuka pintu tempat berbagai sarana yg ada ( termasuk Kantin, tempat makan, hiburan), selama itulah kita bisa menikmatinya ( gratis ).
Diberbagai tempat didominasi hilir mudiknya wong bule. Makanan, makanan wong bule, benar-benar serasa di negeri wong bule !

Usai makan pagi, yang didominasi makanan Eropa, dengan kendaraan Jip yg sejenis sehari sebelumnya, aku dibawa menuju tempat yang lebih tinggi.
Terlihat ujung puncak gunung yg dikelilingi Es, Salju. Menambah pemandangan benar-benar seperti di negerinya wong bule ! ( dalam hati, ini Indonesia lho.... ! ).

Beberapa saat kendaraan masuk terowongan.
Terowongan yg menembus Batu. Dan batu itu sebesar Gunung ! Alias, kita masuk ke " perut " Gunug, yang gunungnya berupa "satu batu besar " !


Terowongan itu diterangi lampu berwarna kekuningan, sepanjang terowongan ada pipa udara yg menghembuskan udara dari luar agar orang tdk kekurangan oksigen.
Terowongan itu amat panjang, dan layaknya jalan di kota. Ada perempatan lampu merah, pertigaan, tikungan, dan Papan penunjuk arah ke berbagai lintasan.
Di beberapa tempat ada semacam Shelter untuk menunggu, bila jalannya sempit dan antar kendaraan harus salah satu menunggu lainnya bisa lewat.

Lebih dari 40 menit aku berada di " perut batu besar " itu.
Dan ........ diujung terowongan itu, sebuah area yg maha luas, dikelilingi punggungan gunung. Di punggungan gunung itu setiap beberapa ratus meter terlihat tempat penjagaan, yg dijaga Tentara !.

Udara cerah, awan melintas bebas, Puncak gunung yg berselimut salju, aku berdiri di Negeri Diatas Awan !


Ada Kereta Gantung panjang, seperti Bus Gandengan, yg melintasi jurang dalam. Didalam Kereta Gantung itu, pulahan Pekerja menuju ke tempat tugasnya masing-masing di area yg maha luas itu.
Hilir mudik Truk-truk super besar, Dump Truck, hilir mudik mengangkut bebatuan. Ditengah area luas itu jurang dalam, yg dikelilingi jalan melingkar-lingkar. 
Alat-alat berat skbuk menggali, kendaraan pengangkut yg super besar hilir mudik.


Batu-batuan yg diangkut bebatuan itu ada yg berserat-serat kuning. Kuning yg sejak sejarah manusia dihargai sebagai barang mahal.Kuning diantara Hitamnya warna kulit penduduk asli setempatnya.
 Yang masih gelap dalam keserjahteraan hidupnya .!
( sampai kapankah batu-batu itu tetap mengalir ke negeri orang ? ).

Aku berdiri di Negeri diatas awan, terasing di Negeri sendiri ! ..... 

Tuesday, October 4, 2016

SENDIRI, MENEMUI SESEJATI JATI DIRI. ( Dalam 267 KM Kayuhan Pedal Sepeda )



.... Dalam gelap kuberjalan,
Membelah belantara akal,
Sendiri
Sendiri
Slalu sendiri ....

Lirik lagu  " Intro "  nya Iwan Fals itu terasa singgah dalam setiap kayuhan Pedal Sepedaku di malam gelap, sepi,  sendiri.
Jalan gelap, sepi, sendiri, sendiri.

Membelah Belantara Akal :
Minggu, 7 Agustur 2016, usai  Adzan Ashar, aku pamit pada teman-teman lama yang baru bertemu sejak lulus SMP, 41 tahun lalu.

Dari pagi sampai sore kami bercengkerama,  berkumpul Reuni kecil-kecilan.
Sederet wajah-wajah mereka yng dipenuhi rasa heran, ketika aku pamit akan kembali pulang ke Bekasi sendiri dengan mengayuh Sepeda.
Sepeda sudah kupersiapkan, dikirim dari Bekasi 2 hari sebelumnya.

Ya,... aku akan berjalan sendiri, mengayuh Sepeda dari Kuningan, tenpat kami berReuni menuju Bekasi.

Wajah-wajah heran, kutangkap dari raut muka mereka, mungkin diluar akal sehat mereka, apa yang kucari dengan Dengkul tuaku yang sudah jelang 59 tahun ini berjalan sendiri, mengayuh sepeda.

" Membelah belantara akal ", kataku dalam hati. Tapi mungkin " Akal tidak sehat " kata mereka.

Foto bersama, bagai akan melepas Atlit Tua, teman-teman mengelilingiku sebelum aku pamit dengan hentakan goesan pertama, menurun menuju jantung kota Kuningan.

Memburu Terang, Kuningan - Cirebon :
Kayuhan pertama begitu ringan karena jalan turun dari pusat kota Kuningan menuju keluar kota, menuju arah Cirebon.
Namun diujung jalan sebelum lepas dari kota, setelah melewati Kantor Bupati, sebuah tanjakan panjang menantang.

Sepeda Touring Surly Long Haul Trucker yang penuh dengan beban muatan di Tas depan dan belakang, kukayuh dengan mengatur tenaga agar tidak terputus di tengah tanjakan.

Bukan perkara mudah !  Umur tak mungkin bisa dibohongi!
Diujung tanjakan nafas terengah, hampir putus. Alhamdulillah tanjakan terlalui. !

Selepas tanjakan itu, jalan syurga terbentang, meliuk-liuk menuju Cirebon. Sesekali kutambah kecepatan agar bisa mengambil foto sepanjang jalan ini dan obyek yang menarik di kota Cirebon sebelum gelap.
Memburu terang !.
Turunan Gronggong

Setelah melalui turunan Grongong yang meliuk-liuk, kini memasuki Kota Cirebon. Kuarahkan lurus membelah senja lintas jalan tengah kota Cirebon.
Grage Mall terlewati, lurus langsung membelah jalan Dr. Wahidin, menuju arah luar kota, jalan yang menuju Indramayu.

Di ujung kota, mampir sejenak untuk mengambil gambar di depan bangunan peninggalan jaman Kolonial.
 
Di depan sisa Peninggalan Kolonial.

Membelah Gelap :
Di ujung senja, kutinggalkan Gedung itu, kembali menuju jalan utama yang menghubungkan Kota Cirebon dan Indramayu.

Selepas melintas Makam Sunan Grunung Jati, senja berganti gelap, dan Adzan Magrib terdengar dari sebuah Mesjid di pinggir jalan.

Kusandarkan Sepeda di dekat tempat Wudhu Mesjid tersebut, dan aku berserah diri pada Nya, menunaikan Sholat Maghrib.

Usai sholat, di teras Mesjid ngobrol sejenak dengan anak-anak usia SD. Sebuah kenikmatan sendiri berinteraksi dengan anak-anak lugu yang keheranan melihat aku bersepeda malam-malam seorang diri..

Sebagaian anak-anak yang berselemmpang Sarung itu mengerubungi Sepedaku, seorang diantaranya memegang Lampu belakang Sepedaku yang kerlip kerlip masih menyala.

Lambaian tangan tangan mungil anak-anak itu melepasku kembali menyusuri jalan gelap menuju Karangampel.
Targetku malam itu bisa mencapai Kota Karangampel untuk mencari Hotel, dan beristirahat.

Suara hembusan nafas tuaku, bersahutan dengan suara gesekan Ban dan aspal. Jalan semakin sepi dan gelap tanpa penerangan Lampu jalan.
Sialnya, beberapa Motor melawan arus, yang mau tidak mau aku harus ekstra hati-hati. Tidak sedikit dari mereka, Motornya tanpa lampu !.

Menghindari tertabrak mereka, Lampu Sepedaku kunyalakan dengan berkedip (flash) agar lebih mudah menjadi perhatian mereka.

Kini jalan semakin sepi, dikiri jalan sawah, suara Kodok bersahutan. Dalam kesendirian, ditengah gelap malam, diri terasa kecil, luluhlah keangkuhan diri.

Tenaga sudah terkuras, akan beristirahat tidak ada tempat istirahat, setidaknya buat sekedar minum kopi hangat, sebagai penyegar sebelum makan malam, yang entah dimana.

Saat jam menunjukan pk. 20.15, aku memasuki kota kecil Karangampel.
Sebuah Warung Tegal dipinggir jalan, menjadi tempat  istirahat dan makan malamku seblum membelah kota kecil itu.

Sepanjang jalan kota Karangampel tidak ada Hotel, maka aku lanjutkan sambil berfikir,  apakah istirhat di Indramayu atau mencari Hotel di Jatibarang.

Jalur Begal :
Usai makan malam seadanya, kembali kaki tuaku mengayuh Pedal Sepeda.
Sampai di Lampu merah, pertigaan, lurus menuju Indramayu, ke kiri menuju Jatibarang untuk nantinya bertemu dengan jalan utama Pantura.

Kuputuskan membelok kiri, menuju Jatibarang, yang kuyakini ada Hotel yng cukup refresentatif untuk melepas lelahku malam ini.

Selepas kota Karangmapel, jalan semakin sepi dan gelap, kiri kanan hanya sawah, sawah dan sawah.
Sisa purnama menjadi teman penyemangat dalam kesendirianku di kesepian itu.

Di suatu titik, terbaca spanduk dari Polisi di sisi kiri jalan, tertulis jelas :  Hati-hati Banyak Begal !.
Tidak jauh dari tempat tersebut, terlihat lagi spanduk sejenis.
 Hati semakin ciut !

Di satu kampung kecil, aku sandarkan Sepeda untuk sekedar istirahat dan membeli Air minum.
Si Pemilik Warung terheran-heran melihat aku bersepeda malam-malam.
" Sedang Olah raga ? ",  tanya anak pemilik Warung.
" Nggak, saya sendiri mau pulang ke Jakarta " , jawabku singkat, diikuti wajah heran dia.

Pemilik Warung memberi tahu, bahwa ada Hotel yang layak di Jatibarang, tetapi dia menyarankan untuk menunda melanjutkan perjalanan karena daerah tersebut memang sering terjadi Pembegalan !.
Hati semakin ciut.

Kulihat di Peta, versi Google Map, Jatibarang 16 KM lagi di depan. Waktu menunjukan jam 9 malam.
Ah,....kukayuh lagi Pedal sepeda dengan harap-harap cemas bertemu Begal di tengah jalan.

Dalam rasa was-was, ditengah jalan sepi dan gelap , kupasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa, pemilik segalanya, agar aku diselamatakkan sampai Jatibarang.

Usai melalui jalan panjang yang sepi dan gelap, kini didepanku terlihat cahaya lampu kota, dan sdh ramai. Hati menyambut dengan sedikit gembira.

Jam menunjukan pk 9.38 malam saat kaki berhenti mengayuh Sepeda di depan sebuah Hotel.

Kumasuki Hotel kecil itu. Kamarnya nyaman, lumayan ditata Asri. Kuserahkan Rp. 380.00,- untuk menginap semalam.
Usai bersih-bersih, mandi.... terlelap dalam kelelahan.

Usai sudah hari itu sejak dari Kota Kuningan sampai Jatibarang telah kukayuh Sepedaku sejauh 91 KM.

Dipanggang Panas Pantura :
Rencananya usai Subuh akan langsung goes kembali Sepedaku, menyusuri Pantura menuju Bekasi.
Namun sayang,  "amunisi " pagi dari Hotel baru tersedia di Restaurantnya baru tersedia pukul 6 .30 pagi. Alhasil baru pk. 7.45 aku baru bisa meniinggalkan Jatibarang.

Tidak jauh dari Hotel, berderat penjual Bendera Merah Putih. Ku pesan yang kecil satu, dan kini berkibar di bagian belakang Sepedaku Sang Merah Putih. Merdeka !!

Pantura, sebuah lintasan jalan terpanjang dan tersibuk di Indonesia.
Sudah 2 kali aku lalui Pantura dengan bersepeda, dan tetap saja ketar-ketir khawatir tertabrak dari Pengendara yang ngebut di lintas jalan ini.
 
Lintas Pantura, usai Jatibarang

Aku pernah shock melihat tabrakan hebat Motor dengan Motor di lintasan ini, yang menciutkan nyaliku untuk melanjutkan perjalan ber Sepeda beberapa tahun lalu.

Banyak Pengendara Mobil dan Motor yang tidak peduli. Berkali-kali terpaksa aku arahkan Sepeda keluar jalan, karena dipepet Mobil, bahkan Truk-truk besar !

Pedal tetap kukayuh walau hati semakin ciut.
Jam menunjukan pk. 10.30 ketika sampi di Eretan, pantai tepi jalan Pantura. Tempat dimana Pasukan Jepang mendarat untuk menjajah negeri ini.

Disini dulu ada Tugu Tanda Peringatan Pendaratan Pasukan Jepang itu, tapi entah kini ...dibuang kemana ! Kita memang lebih gampang membuang sejarah, karena tingkat penghargaan kita begitu rendah pada nilai suatu sejarah.
 
Muara Sungai, jelanbg Eretan.

Di sebuah gubuk, yang digunakan Warung seadanya, kupesan Kelapa Muda untuk sekedar melapas dahaga yang kian terasa.

Bukan Kelapa Muda yang kuterima. Benar-benar kelapa tua.!  Dan yang lebih mengagetkan,........  Rp. 15.000,- harganya. Ini adalah Kelapa termahal yang pernah kubeli  selama keliling ber Sepeda.!

Kukayuh Sepeda kembali, menyusuri lintas Pantura yang menyengat. Matahri semakin mendekati ubun-ubun. Panasnya semakin membakar.!

Kendaraan --kendaran tak peduli keselamatan. Sampailah pada sutau pertigaan di Pamanukan, sebuah mobil Elf tiba-tiba memotong hendak mengabil Penumpang, dan......kutarik remm sepeda kuat-kuat agar tidak menabrak, .... apa daya sebuah Sepeda Motor dari belakangku bruuk...menabrak bagian belakang Sepedaku.!

Beruntung aku masih bisa mengendalikan, sehingga tidak sampai terjatuh.!
Sopir kuhampiri dari sisi kanan. Jawab Sopir dengan enteng :
" Khan udach kasih Sein ".

Wuss....kembali Elf tersebut kembali melaju, meningglakan seribu dongkolku !.

Rasa Lapar tidak terasa, tetapi rasa haus semakin menjadi. Setiap beberapa Km berhenti untuk minum.
Matahri melintas ubun-ubun, panas semakin terasa, kaki tetap kupertahankan mengayuh, walau speed semakin menurun.
 
Nandur Padi, hamparan sawah di Ciasem, Subang

Selepas Pamanukan tenaga sdh benar-benar terkuras panas, kuputuskan istirahat di sebuah Mesjid sambil melaksanakan Sholat Duhur yang kusatukan dengan Ashar.

Usai Sholat, meluruskan kaki dan badan di teras Mesjid yang sepi itu, Dan ........ less, tertidur.

Rasa enggan ketika bangun. Untuk penyegaran, di Kamar Mandi Mesjid itu kauguyur badan, mandi...!

Jam menunjujkan pk. 14.30 saat aku tinggalkan halaman Mesjid itu.  Kembali menyusuri Pnatuira yang selalu menciutkan nyali.

Baru bebeerpoa KM kukayuh Sepedaku, pontng-panting aku terhempas ke kiri jalan karena jalan aspal dan pinggirnya cukup tinggi perbedaanya.
Terpaksa setengah menjatuhkan diri ke kiri karena Truk Gandengan memepet jalanku.!

Dengan tanpa merasa bersalah Truk Gandengan itu semakin ke pinggir dan berhenti.
Sang Sopir turun memeriksa Ban sebelah kanan. Sementara aku masih dipinggir dengan rasa shock yang masih tertinggal.

Kuhampiri Sang Sopir.
" Lain kali hati-hati, lihat orang lain Pak kalau nyopir " , kataku.
Eh.....dengan gampang Si Sopir Tua itu menjawab dengan Logat Jawanya yang masih kental :
" Aku nggak salah, udach pake rihting ".

Kampret !!  kataku dalam hati, sambil terus menggenjot Pedal.

Rasa lapar mulai terasa, tapi tak ada Warung yang sreg buat mampir.
Selepas daerah Patok Beusi, di pintu sebuah Pabrik (entah pabrik apa), niat ke ATM yang ada di kiri Pintu Gerbangnya, mesin ATM nya rusak.

Kuputuskan saja mampir di warung yang ada dekat ATM itu.
Sebotol Teh Botol dingin meredakan haus yang kutahan. Telor Asin dan Lontong di Warung itu menjadi pengganti makan siangku hari itu.

Rasa lelah dan cuaca panas membuatku memutuskan untuk istirahat lebih lama di Warung itu.
Seorabng Polisi dari Polsek Patok Beusi yang juga sedang istirahat di Warung itu, dengan penuh rasa heran banyak bertanya tentang perjalananku.
Mengapa sendiri ?
Apa yang dicari ?
Mungkin heran melihat ubanku !
( Dalam hati, terngiang kembali lirik berikutnya dari lagu Intro itu :  " Dalam terang kumerenung, mencari kesejatian. Sendiri, sendiri, slalu sendiri ...)

Di Hadang Hujan :
Dari Patok Beusi menuju Cikampek, tersa sekali lelah. Sepeda yang ku  kayuh biasanya mampu mencapai rata-rata 20 KM/Jam, kali ini untuk mencapai 15 KM / Jam begitu beratnya !

Ada rasa-rasa hampir menyerah, untuk istirahat panjang sebelum Cikampek.
Pelan pelan, semangat yang mulai luluh, semakin luluh ketika butiran-butiran air hujan jatuh. Kukayuh Sepdaku di gerimis tipis

Di tengah gerimis, tetap kuusahakan dengkul tua ini mengayuh diantara Kendaraan yang semakin padat menjelang Pertigaan Jomin, Cikampek.
 
Pertigaan Jomin, Cikampek, jelang Maghrib.

Jelang Magrib, Roda Sepeda berhasil menjejak aspal di pertigaan Jomin, Cikampek. Jarak 22 KM dari Patokbeusi ke pertigaan ini begitu terasa berat sekali !

Kuputuskan istirahat di Cikampek. Melalui sms, diterima khabar bahwa di Jakarta dan Bekasi sedang hujan besar.

Usai perut terisi amunisi, kulanjutkan pedal sepeda dikayuh dengkul tuaku.
Melalui perjuangan berat, diatas jalan aspal yang masih basah karena hujan, akhirnya pk 22.00 sampai di Jatibening.

267 KM sendiri, berteman suara ban yang bergesekan dengan aspal, semilir angin yang menerpa ujung Helm, sendiri, sendiri, aku sendiri
.
" Dalam gelap kuberjalan,
Membelah  belantara akal.
Sendiri,
sendiri,
slalu sendiri  ".
 
Dalam setiap kesenidirian itulah akan ditemui sesejati-sejatinya jati diri sendiri .....












Friday, November 20, 2015

YUUK ........ MAKAN JANDA MEJENG.

Mohon maaf sebelumnya, kepada para Wanita yang sudah berstatus Single Parent ( Janda ). Tidak sama sekali bermaksud melecehkan dan tidak menghormati dengan artikel ini.

Orang Sunda konon adalah Suku yg punya kebiasaan makan berbagai Daun dari bebagai tanaman sebagai Lalapan.
Anekdot menyebutkan, orang Sunda makan semua Daun, kecuali Daun Telinga dan daun Jendela !

Namun ada Daun yang kini "relatif" termasuk jarang ditemui. Bahkan mungkin, tidak sedikit orang Sunda sekarang mengetahui Daun Lalapan yang ini.!
Namanya Daun Kenikir, seperti terlihat di foto ini.

  Randa Midang menunggu dipetik.
 
" Konon ", Daun ini bermanfaat untuk menurunkan Hipertensi dan menghilangkan Bau Badan.
Di beberapa daerah di tatar Priangan, ada yg menyebutnya daun lalapan ini disebut Randa Midang.

Randa itu artinya Janda.
Ada kebiasaan orang Sunda, kalau sore-sore sehabis mandi, " berdandan " , dan menunggu gelap ( sebelum Maghrib ) mengisi waktu nongkrong di depan Rumah. Kebiasaan ini disebut  " Midang ".

Midang dimasyarakat sekarang layaknya  " Mejeng ",  Tebar Pesona.

Jadi Randa Midang = Janda Mejeng
( Entah kenapa Lalapan ini disebut Randa Midang ! Padahal daunnya juga tdk secantik Janda yg sedang Mejeng ).

Janda Mejeng, terkulai siap di santap

Di beberapa daerah di Tatar Sunda ada yang menyebut daun lalapan ini , Ramidang. Tak lain mungkin singkatan dari Randa Midang. Tetap saja artinya sama, Janda Mejeng !

Yuk, ..... siapa yg mau makan Janda Mejeng ?!
Nikmat, Nasinya panas, Janda Mejengnya dicolek ke Sambal Terasi. Asyikk
( Apalagi sambil nyolek Janda benerannya. He he .. he. ) .
Mengenang Makanan Khas :
HAMPAS KECAP.


Namanya juga Ampas ( Orang Sunda menyebutnya  " Hampas " ), ya...sisa.
Bahkan sisa-sisa.!

Tapi yang ini biar termasuk Sisa, alias Hampas, tetap bermanfaat, enak pula.
Sebelum group Korporasi milik para Pemodal Besar mendirikan Pabrik Kecap, di beberapa pelosok Kampung di Negeri ini sudah berdiri Pabrik-pabrik Kecil milik rakyat.

Mungkin istilah "nge cap" sebagai gambaran orang yang suka banyak ngomong, karena identik dengan "banyaknya" pabrik Kecap yang semuanya mengatakan Produknya No. 1 !

Dari proses pembuatan Kecap yang merupakan sari dari Kacang yang dikeringkan sebelumnya dan diproses sedemikian rupa, meninggalkan "sisa ampas" dari kacang-kacang itu.
Di beberapa daerah, sesuai benda itu berupa sisa-sisa, ya disebut Ampas. Dalam bahasa Sunda ya Hmpas Kecap !

Walau statusnya sebagai barang bekas, Hampas Kecap masih berguna. Dimasak sebagai oseng-oseng, dicampur Cabe, kadang juga dengan dicampur Oncom, jadilah makanan yang enak untuk "teman Nasi" .

Oseng-oseng Ampas Kecap.

Proses Pembuatan Kecap, tidak hanya menyisakan Hampas Kecap, tetapi juga ada bagian sisa cairannya yang kental, yang ada di dasar tempat Kecap itu, sebagai "sisa penyaringan" . Yang ini disebuat  " Gegendek ".

Karena "sisa saringan", Gegendek kental sekali, jadi ibarat Kecap yang Kental sekali. Dan ini pun masih bisa dimanfaatkan, ya...sebagai kecap yang kental sekali !

Sayangnya grup Korporasi telah "melibas" matinya Pabrik-pabrik Kecap Tradisional milik rakyat kecil.
Tamattah sudah denyut nadi Pabrik Kecap rakyat yang tersebar di pelosok kampung.
Dan rasanya tak mungkin lagi pabrik Kecap tradisional akan bangkit lagi saat ini, ...... berat, ...!
Bagaimana tidak ? Kacang saat menjadi barang Impor dari Luar Negeri.!
( Karena Petani pun telah pergi, menjadi kuli-kuli. Merunduk, bagai pasukan yang kalah perang di negerinya sendiri !)
Generasi kinipun tak mengenal lagi lezatnya oseng-oseng Hampas Kecap..
POSONG, GERABAH YANG HILANG.


Orang boleh tertawa, bahkan mentertawakan kalau barang-barang Gerabah ini dihadirkan sebagai Barang Pajangan di Ruang Kerjaku.
Tungku Tradisional, Poci dengan Cangkirnya yg bertengger diatas Meja dari Jubleg ( Penumbuk Padi dari batu asli ) peninggalan kakek , dan Meja dari Gerabah yg turut menyangga Radio Tua.
Orang boleh memandang sebagai " ke kuno an ", atau mungkin " kampungan " . Apapun menyebutnya, tetapi setiap orang punya " pe nyelaman rasa, bathin " masing-masing saat memandang menikmati suatu benda.


Bagiku, memandang suatu Gerabah, mengingatkan sebuah sudut Kampung di Jatiwangi, bernama Posong.
Terbayang sebuah kampung yg sebagian penduduknya mengandalkan hidupnya dari memproduksi dan menjual Gerabah tradisional.

Terbayang Pak Aming, yg dengan otot tua rentanya memikul Gentong, dan Padasan yg besar keliling kampung, saat Matahari tepat di ujung ubun-ubun.
Sementara kayu pemikulnya yg terbuat dari Bambu ( dalam bahasa Sunda di daerah Jatiwangi disebut Rancatan ) sdh licin karena seringnya terpegang tangan.


Aku mencoba minta bantuan Mbah Google mencari tahu tentang Kampung Posong saat ini.
Tidak ada yg muncul Kampung Posong di Jatiwangi ! Yang ada, informasi Kampung Posong di Arjawinangun, yg sampai saat ini penduduknya masih tetap mengandalkan hidupnya dari membuat dan menjual Gerabah. Walau konon mereka harus terpaksa bermodalkan modal usaha dari Rentenir !
( Mungkin nama Posong itu adalah nama umum untuk Kampung yg memproduksi Gerabah. Seperti juga sebutan nama Kampung Pande untuk Kampung tempat Pembuat peralatan pertanian dari besi, Pande besi ).

Posong, dulu sering aku lewati saat melintas bila ada keperluan ke Kantor Pos. Dikiri kanan jalan, sepanjang Kampung banyak orang dengan tekun memutar-mutar alat tradisional pembuat berbagai Gerabah. Ditangannya, tanah liat asli Jatiwangi berwarna kekuningan. Di halaman, berjejer Gerabah mentah di jemur sebelum dibakar di tungku-tungku tradisional.
Itu 40 tahun lalu, entah kini, apakah masih ada pemandangan ini ? Atau jaman telah menggilas segala yg dianggap ke tradisional an ?
( akupun tak bisa lagi memandang " gerabah", selain "keramik" ).

 
Ada sebuah Gerabah yg hampir dipunyai oleh masyarakat di pelosok kampung Jatiwangi. Disamping gerabah yg disebut " Padaringan " , yg begitu sakral sebagai tempat Penyimpanan Beras.

Ada lagi yg berfungsi sebagai tempat Air. Di bagian dasarnya ada lubang tempat air keluar. Penutupnya terbuat dari kayu. Gerabah yg ini disebut " Padasan ".

Air di Padasan digunakan untuk Wudhu, dan membersihkan kaki sebelum masuk Rumah. Yang menarik, Padasan ini juga banyak diletakan di depan pintu Pagar Rumah.
Airnya selain untuk keperluan penghuni rumah, tetapi juga sengaja agar orang yg lewat kehausan, bisa langsung minum.!
Itulah rasa ke Manusiaan para leluhur  !
( Sambil menulis artikel ini, merasakan ke rentaan tubuh, ingatan menjelajah, menembus ruang dan waktu 40 tahun lalu, tentang sebuah kampung, bernama Posong ) .

Sunday, November 8, 2015

Bersepeda Seorang Diri  :
DIBAWAH TERIK MATAHARI KHATULISTIWA
( Antara Banjarmasin - Palangkaraya )


Diatas angkasa Banjarmasin, langit cerah ketika kaki menuruni tangga Pesawat yang membawaku dari Jakarta.
Banjarmasin, sudah berpuluh kali aku singgahi Ibu kota Kalimantan Selatan ini.

Mata mengawasi antrian Bagasi yang bergerak diatas Ban berjalan. Aku menunggu Sepeda Lipatku ( Seli) berwarna Putih Mutiara, Polygon Urbano 3, yang terbungkus Tas khusus.

Perjalanan Goes Sepeda kali ini aku gunakan Si Seli Putih, semata atas pertimbangan mudah dalam transportasi selama di jalan.  Tentu jaub lebih ringan, dan mudah dibawa, dibanding dengan tidak epeda khusus Touringku, Surly Long Haul Truck.
Namun perjalanan kali ini akan jauh terasa lebih berat, karena Si Seli hanya menggunakan Ban ukuran kecil, 20 inch saja !.

Bersyukur Si Seli yang terbungkus Tas abu-abu itu keluar dengan selamat, tanpa cacat.

Sebuah mobil SUV, Mitsubishi Pajero Sport, telah menunggu di halaman parkir Bandara. Si Seli langsung teronggok di tempat bagasi.

Senja yang cerah, Gado-gado dan Bebek Bakar menjadi santapan makan di Rumah Makan Tahu Sumedang di kota itu.

Malamnya, Si Seli mengalami proses "pemuatan beban". Tas Touring merek Top Peak menyatu dengan Rack yang juga satu merk.  Barang-barang perlengkapan, baju, alat Recovery segera menempati ruang yang tersedia di Tas tersebut.

Esoknya, usai Subuh, Si Seli aku bawa jalan pagi berkeliling kota Banjarmasin, sebagai pemanasan. Tercatat di Distance, jelajah pemanasan ini mencapai 36 KM lebih.

Aku masih tinggal sehari untuk persiapan lainnya, cari info tentang jalan, kondisi Lalu lintas, dan tentu istirahat menyiapakn tenaga dengan cukup tidur.

Usai salam terakhir di Subuhku, langsung Si Seli yang sudah penuh dengan bawaan diajak turun. Penjaga Hotel yang masih terkantuk terkaget-kaget seorang tamunya Check out di pagi buta dengan Sepeda.

Jam menunjukan angka 6 tepat saat Pintu Hotel yang dibukakan oleh Satpam memberi jalan aku dan Si Seli keluar.
Di jalan lampu penerangan masih menyala, jalan masih gelap. Ku kayuh si Seli menuju luar kota Banjarmasin.

Mengikuti jalan utama, di bawah Jembatan layang, aku membelokan si Seli ke kanan. Di salah satu Lampu merah, sekelompok yang sedang olah raga ber Sepeda memanggil, dan menyetop.

Kami berkenalan, sekalian mereka memberi informasi jalan dan kondisi lalu lintas.  Target aku untuk mencapai Jembatan yang konon terpanjang di Kalimantan, yang melintas Sungai Barito.

Saat asyik goes sendiri di pagi itu, rupanya 2 rekan Goeser yang tadi berkenalan, mengikuti dari belakang yang akhirnya menemani sampai Jembatan Barito.

Si Seli dengan Rodanya yang kecil dan penuh muatan  cukup membuat nafas ngos-ngisan saat menanjak melintasi Jembatan itu.


Inilah sungai Pertama yang kulaui dalam perjalanan ini, Barito.

Di ujung  Jembatan Barito, di sebuah Warung aku sekedar istirahat, dan makan Telor serta Lontong bersama kedua rekan dari Banjarmasin yang mengantar sampai di tempat ini.

Kedua teman,segera kembali ke arah kota, dan aku seorang diri melanjutkan perjalanan menuju Perbatasan Kalimantan Selatan - Kalimantan Tengah seorang diri.

Jalan lebar, mulus terbentang, dengan garis putih yang jelas. Suara gesekan ban dan aspal memberiku semangat, lanjutkan !

Matahari semakin keatas. Pada suatu titik di daerah Serapat, berdiri tegak di kedua sisi jalan : Tembok tanda batas Provinsi Kalimantan Selatan - Kalimantan Tengah.

Si Seli kuhentikan, segera mengabadikan saat aku pindah menjejak antara tanah Kalsel dan Kalteng. Dan di titik ini pula waktu di Jam berubah dari WITA menjadi WIB !!!

Batas Provinsi Kalsel - Kalteng, batas waktu WITA - WIB.


Kini roda kecil Si Seli berputar diatas wilayah Kalteng.!
Angin menerpa cukup kuat menghambat gerakan Sepeda. Dengkul tua yang sudah menjelang usia 58 tahun ini harus lebih kuat menekan Pedal Si Seli.

Jalan kadang lebar, kadang pula menyempit. Disuatu daerah jalan dirimbuni kiri kanan pohon-pohon, mengingatkanku akan kedaan di kampungku di era tahun '70 an.

Antara Serapat - Kuala Kapuas.
Beberapa pengguna jalan terheran melihat aku Goes di terik matahari seorang diri, dengan perlengkapan penuh di Sepeda.

Jalan itu cukup nyaman. Dan setiap aku melihat rombongan anak sekolah yang ber Sepeda, aku merasa tenang, setidaknya andai Si Seli ngadat, rusak, ban bocor, diseikitar kampung itu ada Pembengkel Sepeda.


Satu Sungai Dua Jembatan :
Menjelang Kota Kapuas Hulu, diatas pedal Si Seli aku lalui 2 Jembatan panjang. Sungai Kapuas yang lebar mengalir dibawahnya.

Menjelang kota Kapuas, sungai ini terbelah dua, sehingga aku melalui 2 Jembatan yang melintas diatasnya, Jembatan Pulau Petak dan Pelo.

Melintasi Sungai Kapuas, Jembatan Pulau Petak.

Kota Air :
Matahari semakin condong mendekati ubun-ubun saat aku sampai di sebuah Bundaran luas, tanda pintu masuk kota Kuala Kapuas, yang menyebut dirinya Kota Air.

Kota ini sejak dulu sudah sangat terkenal dan berperan dalam lalu lintas ke pedalaman Kalimantan Tengah, yang saat itu mengandalkan jalur Sungai.

Kota yang terletak di Kuala sungai ini sejak jaman penjajahan sudah sangat diperhitungkan strategisnya. Sebagai bukti, disini ada peninggalan Benteng yang dibangun di era penjajahan bumi pertiwi ini.

Kuala Kapuas masa lalu,

Kusandarkan Si Seli, dan segera mengambil di moment saat memasuki Kota Kuala Kapuas ini.

Aku rehat sejenak sambil mengabadikan Bundaran pintu masuk kota,  yang nampaknya baru ditata.

Satu keluarga yang juga sedang dalam perjalanan, berhenti tak jauh dari tempat aku berhenti. Saat keluar kendaraan dan hendak berfoto, sempat kami bertegur sapa.

Sang Ibu, wanita separuh baya, sedikit terheran-heran ketika mengetahui aku dalam perjalanan seorang diri bersepeda. Mungkin juga lebih heran karena melihat uban di kepalaku !.

 Pintu masuk Kota Kuala Kapuas

Sambil istirahat di sekitar Bundaran itu, melalui Handphone aku coba hubungi kenalan satu kampung yang sudah lama tinggal di Kota Pulang Pisau, sebuah kota kecil yang akan aku lalui.

Aku coba kumpulkan informasi darinya kondisi jalan, keamanan dan fasilitas sepanjang jalan yang akan kulalui.

Panas menyengat, saat aku putuskan melanjutkan perjalanan menuju kota Pulang Pisau.

Jawa dan Bali di Kalimantan :
Jalan semakin sepi. Lepas dari batas kota, aku melintas di daerah perkampungan ex Transmigran dari Bali. Sepanjang jalan, rumah-rumahnya bergapura layaknya rumah di Bali. Di setiap rumah, didepannya ada pelataran tempat pemujaan, sembahyang Agama Hindu. Ada beberapa Pura yang besar, tertata rapih.

Pura di Perkampungan Transmigran Bali di Kalimantan Tengah

Penduduknya, Pria dan Wanita banyak yang mengenakan Baju Adat Bali, bahkan saat mampir di satu Warung, mereka pun masih berkomunikasi dengan Bahasa Leluhurnya.

Lepas dari perkampungan ex Transmigran Bali, menyambung ke Perkampungan yang didominasi oleh ex Transmigran dari Jawa. Benar-benar terasa suasana di pedesaan Jawa. Mereka pun masih berbahasa Jawa.!

Hari itu, hari Jumat, jelang waktunya Sholat Jumat. Hilir mudik Pria Bali yang mengenakan pakaian Adat Bali, sarung, hampir samar dengan hilir mudik Penduduk lainnya (yang berasal dari Jawa) yang akan pergi menunaikan Sholat Jum'at ke Mesjid.

Di sebuah Mesjid yang sudah ramai dengan Jamaahnya, dan Khotib sudah di Mimbar, aku sandarkan Sepedaku, dan kutuntaskan kewajibanku, Sholat Jum'at, dan di jama dengan Ashar.

Usai sholat, beberapa Jamaah yang keluar dari Mesjid tidak sedikit yang memandang heran. Dan beberapa bertanya tentang tujuanku.
" Inshaa Allah sampai Palangkaraya ",  kataku ketika diantara mereka menanyakan kota tujuanku bersepeda.

Dibakar panas Khatulistiwa :
Panas sedikit melewati ubun-ubun, panasnya bukan alang kepalang.!
Panas itu menghilangkan rasa lapar, tetapi menimbulan rasa haus yang bukan alang kepalang. Sejak meninggalkan Banjarmasin, sudah 3 Botol air mineral ukuran sedang sudah ku habiskan. Belum lagi minuman penyegar lainnya. !

Matahari dekat garis Khatulistiwa, membakar tubuhku siang itu. Dengkul yang sudah menjelang 58 tahun ini  masih setia bersahabat dengan Pedal. Sesekali angin membelai dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Suara gesekan rantai sepeda, ban dengan aspal, semilir angin, membelah sepinya sisa hutan di kiri kanan jalan yang kulalui ....

Sisa hutan di kiri kanan jalan. Beberapa kali Ular tanah melintas, menyeberang jalan.
Jam menunjukan angka 1 lebih 45 menit, semakin siang, semakin panas. Jalan yang kulalui semakin sepi, tidak ada perkampungan lagi.

Suara gesekan ban dan aspal, rantai sepeda, angin yang menerpa tepi Helm yang kupakai, menjadi bagian dari teman perjalanan dibawah teriknya matahari siang itu.

Tepat pk. 2 siang, Matahari tepat menerpa bagian kiri badan, leher kiri tertimpa sinar matahari yang terasa panas sekali.   Aku sudah di tidak kuat lagi menahan panas !
Di tengah sepinya hutan, di salah satu sisi jalan sebelah kananku, ada sebuah warung yang lumayan layak untuk istirahat.

Tanpa banyak berfikir panjang, Si Seli kuarahkan menyeberang jalan, ke kanan. Warung itu menjadi tempat istirahat.!

Telur asin, Mie Instant dan minuman langsung kusantap sebagai makan siangku yang terlambat dari jadwal.

Usai menyalurkan  urusan "arus bawah" seusai makan siang, langsung badan kurebahkan di bale-bale yang ada di samping Warung itu.  Dan ...... lesss,   tanpa sadar, tertidur ..!

Jam menunjukan pk. 3 siang saat aku terbangun di balai-balai Warung itu. Badan lumayan segar.
Usai pamit ke pemilik Warung, kukayuh kembali Pedal si Seli.

Sudah meninggalkan Warung cukup jauh, terasa ada yang kurang, ...... oh......Kacamata tertinggal di Warung !  Terpaksa aku kembali lagi ke Warung.

Jalan semakin sepi, hutan dikiri jalan masih dipenuhi Pohon-pohon tinggi.  Setelah jalan lumayan jauh, terlihat di depan sebuah Gerbang, tertulis Kabupaten Pulang Pisau.

Alahamdulillah, aku sampai di tengah-tengah jarak rencana perjalananku. Pulang Pisau, sebuah Kabupaten hasil Pemekaran termuda di Kalimantan. Pulang Pisau ini berada di posisi tengah route rencana perjalananku, Banjarmasin - Palangkara.

Sekelompak Remaja bergerombol mengisi waktu senja di dekat Pintu Gerbang itu. Setengah heran, mereka mendekatiku. Setelah berbasa-basi, kuminta salah seorang dari mereka untuk membantu me moto ku.
Pintu Gerbang Kabupaten Pulang Pisau.
Dengan semangat, kukayuh kembali Sepeda. Lepas dari Pintu Gerbang itu sudah terasa suasana kampung. Rumah penduduk asli  ( Dayak ) berselingan dengan sisa hutan. Sesekali anak-anak kecil yang sedang bermain melambaikan tangannya melihat aku melintas di depan rumahnya.

Saat melintas di depan sebuah Warung, seorang Penduduk asli memanggil. Kuhampiri dia yang sedang asyik berkerumun di Warung itu.  Ternyata mereka memangilku hanya mengajak Ngopi bersama ! Sebuah  " sisa keramahan " penduduk negeri ini.
Kusambut undangan itu, sambil melepas kepenatan, kami ngobrol dan mereka banyak yang menanyakan maksud perjalananku.
Jalan yang kulalui mulus. Pada sebuah titik, di depanku sebuah tanjakan yang bersambung dengan Jembatan. dibawahnya melintas sungai, inilah Sungai Pulang Pisau, yang menjadi juga nama kota ini.
Sebelum Jembatan, sebelah kiri ada jalan. Dan inilah jalan masuk ke kota Pulang Pisau. Sebelum melanjutkan masuk ke kota, lewat HP aku hubungi kenalan se kampung yang sudah menjadi warga kota ini, Kang Tata Alisumitra.
Sepeda kuarahkan ke komplek perumahannya. Tidak begitu sulit aku mencari rumahnya. Sambutan hangat keluarganya mengisi keceriaan senja itu.
Kang Tata menawarkan untuk menginap di rumahnya, tanpa mengurangi rasa hormat atas tawaran itu, aku berniat tidur di penginapan di tengah kota.
Diluar dugaan, pusat kota Kabupaten ini tidak lebih besar dari sebuah pusat Kota Kecamatan di Jawa ! Disini yang disebut pusat kota hanya lapangan kecil, Rumah Bupati dan beberapa warung.

Kang Tata bilang, bahwa tidak ada Hotel. Penginapanpun tidaklah selayak di tempat lain. Atas bantuan beliau, aku dapatkan tempat Penginapan milik Pemda, bersebelahan dengan Rumah Dinas Bupati.
Saat mencari tempat makan malam harinya, hanya ada beberapa saja. ATM pun di buka hanya siang hari. Kecuali ATM BRI yang ada di sudut jalan, dekat Pasar.
Malamnya, usai ngobrol dengan Kang Tata, langsung istirahat. Sebelum mata kupejamkan, kulihat dialat penunjuk jelajah di sepedaku menunjukan angka 157 KM. Jarak dari sejak pemanasan di kota Banjarmasin sampai titik aku istirahat di Pulang Pisau ini !


Diterpa Panas dari Bawah dan Atas :
Bangun pagi sebelum Subuh, diluar terdengar gerimis. Usai proses loafding semua perlengkapan ke Sepeda, kulaksanakan kewajibanku, Sholat Subuh.

Sebelum dengkul tua ini mengayuh kembali Sepeda, Roti dan telur asin menjadi sarapanku pagi itu.
Jam 5.15 saat Satpam Rumah Dinas Bupati itu membukakan pintu pagar.
Gerimis tipis menemani perjalananku meninggalakan kota Pulang Pisau. Suasana masih sepi sekali. Hanya terlihat 2 orang Petugas Kebersihan membersihkan sampah di pinggir jalan.

Gerimis tipis bercampur kabut. Pandangan masih terbatas, kunyalakan Lampu Sepedaku.
Saat memasuki jalar raya Banjarmasin - Palangkaraya, jalan basah tersiram gerimis tipis. Jalan masih sepi, hanya suara burung di hutan kiri kanan jalan riuh menyambut pagi. Udara dingin menerpa tubuh menemani angin saat Sepeda melesat diatas aspal basah.

Sendiri, di sepi dan sisa gerimis pagi.
 
Hembusan nafas keluar dengan kabut pagi. Sepi, sepi dan sepi.
Selepas dari hutan dibatas Pulang Pisau, perut masih terasa meminta tambahan bahan bakar.  Saat memasuki sebuah perkampungan penduduk asli (Dayak), sebuah Warung kecil yang baru buka menjadi tempat istirahat pertamaku pagi itu. Mengisi bahan bakar yang masih dirasa kurang oleh si Perut ini.

Segekas Teh hangat  manis makanan kecil, cukup memberi kesegaran untuk kembali menggenjot pedal Sepedaku.

Di kiri kananku sekarang terlihat berselang seling antara deretan pohon sisa hutan dan rawa tanah gambut.

LK 100 KM lagi di depanku untuk sampai ke pusat Palangkaraya. Kondisi kiri kanan jalan jaub lebih sepi dari sebelumnya. Tetapi inilah sebuah kenyamanan bersepeda yang tidak kudapatkan di Pulau Jawa !

Jelang pk 10, aku sampai ke suatu daerah. Ada deretan warung yang tak lebih gubuk-gubuk. Bangunan besar hanya sebuah Mesjid dan kantor KUA.  Kuparkirkan Sepeda di halaman Mesjid, dan kembali "mengurus urusan arus bawah" di sebuah WC Mesjid itu.

Saat akan keluar halaman Mesjid, sesorang dengan sedikit heran menanyakan darai mana aku, mau kemana, apa tujuannya. Sederat pertanyaan yang sdh biasa aku dapatkan dalam perjalanan kesendirianku.

Sekelompok Pelajar berseragam Pramuka melambaikan tangan memberi semangat. Konon tak jauh dari kampung ini akan dilewati sebuah Jembatan panjang, sepanjang 10 KM yang melintas diatas Rawa, tanah gambut.

Jembatan Tumbang Nusa yang dibangun agar kendaraan bisa melintasi hamparan Rawa yang selalu banjir menghalangi perjalanan. Jembatan yang menjadi tulang punggung kelancaran logistik dan ekonomi wilayah keterpelosokan  Kalimantan Selatan.

Matahari masih condong dari Timur, tapi panasnya sudah menyengat. Panas Matahari dekat Garis Khatulistiwa dari atas, dan panas lembab yang terpantul dari tanah gambut !

Aku berhenti sejenak, mengoleskan tambahaan Krem anti bakar agar kulit tidak terbakar sinar Matahari.

Tidak begitu lama, terbenatang di hadapanku Jembatan panjang, melintas diatas Rawa amat sangat luas. Terik Matahari semakin terasa.! Tak ada Pohon tempat berlindung !

Aku tak dapat mengembangkan kecepatan mengayuh, karena angin begitu bebas dan kuat menghambat gerak Sepedaku.
Jembatan Tumbang Nusa, sepanjang 10 KM melintas diatas Rawa.

Kukayuh terus Sepeda. Sungguh, di tempat inilah perjalanan terberat bagi dengkul tuaku. Dari bawah panas lembab Rawa, dari atas terik langsung dari panas matahari khatulistiwa, dari depan tiupan angin kencang menghadang gerak laju Sepedaku !

Aku bertahan, pelan-pelan ku kayuh. Terlihat di Speedometer menunjukan hanya 17 KM / Jam. Mempertahankan kecepatan sebegitupun begitu berat di tempat ini !

Setelah perjuangan berat melintas Jembatan sepanjang 10 KM itu, aku putuskan istirhat di sebuah warung di ujung jembatan. Disini banyak deretan Warung yang didominasi oleh penjual yang berasal dari Banjarmasin.

Jalan berikutnya tidak semulus jalan aspal sebelum Jembatan. Banyak yang berlubang dan bergelombang.

Arah Matahari merayap,  hampir jatuh tepat di ubun-ubun. Panas masih menjadi kendala. Mental sudah menurun, setiap Tugu Pal Batas selalu kutengok. Ingin segera sampai di Tugu Pal bertuliskan angka Nol  !!

Kamu bisa, kamu kuat, kamu pasti sampai ke Palangkaraya !  ( kataku dalam hati, menyemangati diri sendiri ).

Kayuhan demi kayuhan, akhirnya di depanku terlihat sebuah pointu Gerdang tua bertuliskan :
" Selamat Datang di Kabupaten Palangka Raya. Kalimantan Tengah. Kota Cantik ".

Kusandarkan Sepedaku di depan Tugu Gerbang ini.
Pal batas Pintu Gerbang Kabupaten Palangka Raya.

Palangka Raya, Kota Tertata :
Selepas tanda pintu gerbang itu, semangat menggoes bertambah tinggi, ingin segera masuk kota Palangka Raya. Kota paling tengah di wilayah Indonesia. Kota yang tertata oleh Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno.

Jalan yang kulalui semakin ramai. Sebelum masuk ke kota Palangka Raya, aku lalui sebuah daerah dimana banyak sekali dijual buah-buahan dan sayuran yang ukurannya besar-besar. Ada Timun, Semangka, Labuh dan lainnya yang ukurannya besar-besar.

Konon, inilah daerah Transmigran yang berhasil. Transmigran dari Jawa yang berhasil merubah tanah Rawa menjadi tanah pertanian yang subur. !

Di sebuah Tugu Tapal Batas yang menunjukan angka 10 KM lagi menjelang kota Palangka Raya, kusandarkan Sepeda dan kuluruskan kakiku, istirahat sejenak.

Dengan sisa tenaga dan semangat yang masih tersisa, aku bangun dan kembali ku kayuh Sepedaku di tengah terik Matahari. Keramain kota semakin terasa.

Dan ....... tepat jarum Jam menunjukan pk. 12.45 ketika roda Sepedaku menjejak jalan di Bunderan pusat Kota Palangka Raya. ! Aku sampai di kota tujuan, Palangkaraya !
Sampailah sudah niatku dengan dengkul tuaku ini seorang diri menggoes Pedal Sepeda, di terik matahari  dari  Banjarmasin sampai di kota tertengah di wilayah Indonesia, Palangkaraya. !!

Di tengah keramaian kota Palangkaraya, yang tertata rapih, jalan membelah blok-blok bangunan, aku arahkan Sepeda menuju Hotel.

Di Lobby Hotel, yang Satpamnya setengah bingung melihatku, seorang Wanita muda dengan ramah, menyodorkan Lap penyeka wajah. Kuusap mukaku, di lap itu meninggalkan debu dari wajahku yang terkumpul sepanjang jalan.!

Usai sudah menempuh perjalanan bersepeda seorang diri dari Banjarmasin, Ibu Kota Kalimantan Selatan, ke Palangkaraya, Ibu kota Kalimantan Tengah.
Melintas tapal batas 2 Provinsi, 3 Sungai Besar di Kalimantan, 257 KM dibawah terik Matahari Khatulistiwa ......













 


 














 

Thursday, May 8, 2014

THE REAL " BIKE TO WORK".

........., luluhlah keangkuhan diri, melihat urat sepasang kaki kurus, tubuh renta diatas pedal sepeda tua, single gear.
 

Bronjong banmb di kiri kanan, bermuatan penuh buah Pepaya dan Daun Pisang.
Nafas tersengal dan peluh mrngucur dari tubuh sii Kakek.
Tanjakan jembatan yang melintas diatas jalan Tol dilewatinya.
Berjuang demi sedikit rejeki, demi sejengkal perut .
The Real Bike To Work ! ........
( catatan kecil perjalanan goes pagi )
catatan kecil perjalanan malam : 
BILA TUHAN BERKEHENDAK.

........ " konon" dulu ia hanya juru masak.
Dulu tempat usahanya hanya "warung kecil" yng menyempil, dengan beberapa meja kayu dan beberapa pelayan.

Kini menempati bangunan tempatnya bukan lagi "warung", tetapi "restaurant modern" dgn bangunan bertingkat, puluhan pelayan dan Security berseragam rapi dan sopan, Ruangannya tertata rapi, berpendingin yg nyaman, terletak di daerah terpandang, antara Kemang, Fatmawati, Ibu Kota.

Empatpuluh dua menit berdiri dalam antrian tamu dalam status waiting list, demi dapat menikmati sajiannya !
Seluruh meja di 2 tingkat restaurant itu terisi penuh.! Waiting List para tamu sampai keluar bagian depan.!
Begitulah kalau Allah SWT berkehendak, Dia Maha Kaya, Dia Maha Pemberi.

Disudut dekat meja Kasir, tertulis ungkapan Sang Pemilik Restsuranyg khusus menyajikan Steak itu :

" Aku tahu rizky ku tidak akan diambil orang lain, maka aku tenang.
Aku tahu amalku tidak mungkin dilakukan orang lain, maka aku sibuk beramal.
Aku tahu Alloh Maha Melihat, maka aku tidak ingin berbuat maksiat.
AKu tahu kematian akan datang menghampiriku, maka aku persiapkan ibadahku untuk menemui Robku. " ABUBA .........
MENEPUKI KEGOBLOKAN SENDIRI.

...... sepintas melirik acara TV Swasta.
Ada acara berlabel D Academy ( Dangdut ??? ).

Seorang anak Usia 4 tahun, dipangku seorang Host. Ditanya ini itu, lantas Sang Bocah ingusan itu menyanyi.

Lagunya lagu si Inul Daratista, penyanyi bersuara pas-pasan, wajah seadanya, yang cuma bermodal "menghebohkan" goyangnya (dan meluluh lantakan "etika dan artistik seni panggung", menjatuhkan "martabat Dangdut" yang tadinya sudah pelan-pelan "terangkat" martabat musiknya )

Lagunya, lagu orang dewasa, bertema cinta dengan lyrik murahan. Si anak ingusan, suara masih setengah cadel, mengucap kata cinta, kekasih, rindu, dalam deretan lyriknya, kalimatnya hanya cocok untuk manusia Dewasa...!

Penonton bertepuk tangan, Pembawa Acara bertepuk tangan, orang tuanya bertepuk tangan :
MENEPUKI KEGOBLOKAN nya SENDIRI !!!!! .......



KETIKA MURKA DI ANGKASA JAKARTA.

......... sebuah mobil box terparkir lama di jalan sepi ditengah sawah.

1998, Jakarta bergejolak, entah apa untuk apa, entah siapa menyerang siapa. Saling serang, saling menghancurkan. !

Emosi, kebencian, tumpukan kekesalan, teronggok keputus asaan memenuhi rongga, meletupkan kebrutalan, saling menghancurkan !

Entah apa untuk apa, siapa menyerang siapa.

Hingga senja menyapa, mobil box masih terparkir ditepi jalan desa, beberapa puluh km dari ibu kota, yg langitnya dipenuhi asap hitam dan amarah.

seorang polisi yg menjelang pensiun namun tak dikarunia anak, mendekati mobil bok.
Box nya dibuka,
Pintu box terbuka.
Didalamnya suami istri dan balitanya dengan penuh peluh dan wajah ketakutan.

Asap dan amarah massa yg memenuhi angkasa ibu kota, telah membust pemilik mobil box itu lari dari ibu kota untuk menyelamatkan diri.Etnis, suku, yg tak pernah ingin dipiih saat kita terlahir, menjadi bagian tumpukan sasaran amarah massa saat itu.
( apakah kita bisa memilih suku, etnis yg kita inginkan sebelum terlahir ke dunia ? ).

suami istri itu menyerahkan sang balita yg dicintainya, demii keselamatan dari amarah yg menguasai angkasa Jakarta.

dalam rumah sederhana, ditengah kampung pedesaan pantura, sang balita dirawat, dididik oleh ssng polisi pangkat rendahan itu dengan penuh kasih sayang.
Dalam keterbatasan pendapatan pas-pasan polisi pangkat rendahan itu, sang polisi menghantarkan sang balita hingga dewasa. Sang balita menjadi dewasa dan merasa mempunyai 2 bapak yg sama sama menyayangi.

hari ini, ada pesan di inbox, sang polisi berpangkat rendahan yg hidup dalam kesederhanasn itu telah berpulang menghadap Sang Khalik.

" Semoga engkau dilapangkan khuburnu,, di terima amal ibadahmu, diampuni segala dosamu. Al Fathihah. Amiin "

Thursday, February 6, 2014

MENEMBUS AMAZON INDONESIA ( II )


Damai alam di Camp Leakey :
Waktu menunjukan pk. 14. 40, dua orang Petugas dengan menggendong makanan berupa Pisang datang sambil meneriakan “Auuuuu”, memanggil Orang Utan untukmakan.

Dari berbagai arah Orang Utan datang, ada yang sendiri da ada pula yang menggedong bayi nya. Tidak seperti di camp lainnya, disini beberapa orang utan bisa makan bersama. Bahkan seekor Wauwau, monyet kecil,  beralis putih, yang lucu, ikut nimbrung sambil loncat kiri kanan, tetap waspada, iapun mengambil sejumlah pisang lalau bertengger di suatu dahan.

Ia berulang kalii datang dan kemudian lari, manjat pohon sambil membawa Pisang. Gerakannya menjadi  atraksi  alam yang mengasyikan.

Monyet ekor panjang dan Babi Hutan ikut nimbrung makan siang.

Tiba-tiba dari belakang kami, sama sekali tak menghiraukan keberadaan  kami, seekor Orang Utan dengan menggendomg anaknya nyelonong datang dan langsung mengambil Pisang. Sambil tetap melihat situasai aman di panggung tempat Pisang terkumpul, ia mengambil sejumlah Pisang .  Mulutnya dipenuhi pula oleh pisang, iapun kembali berjalan ke rerimbunan pohon.
Kasih Ibu.

Seekor anak Orang Utan yang sudah cukup besar, bermain-main menggelantung dari pohon ke pohon sambil menunggu induknya mengambil pisang. Sesekali ia nungging, dan ...cooorrr, iapun kecing tanpa peduli kami yang ada di bawahnya.!

Kamipun menyambutnya dengan tertawa sambil menghindar dari cucuran hujan buatannya. Sungguh satu atraksi alam ditengah kedamaian “persahabatan” kami dengan penghuni Camp Leakey ini.

Tingkah Lucu si anak Orang Utan.

Para Petugas kembali berteriak  “ aauuuuwwwwww “,  memanggil Orang Utan lainnya. Rasa penasaran kamii untuk melihat si Raja, Tom muncul di hadapan kami.
Dengan sabar kami menunggu sambil mengamati yang lainnya bergelantungan dari pohon ke pohon.

Matahari semakin condong ke barat, kami masih Sabar menunggu kehaduran si Tom. Namun lama kami menunggu, belum juga hadir si raja itu.

Tidak begitu lama, Petugas mengisyaratkan kami agar jangan berisik. Tidak begitu lama dari belakang kami seekor Orang Utan yan sudah tua, kurus, menggendong anaknya datang.  Berjalan menerobos kerumunan kami , sama sekali acuh terhadap kemurumaman kami. Jalannya sudah agak terseok. Ia langsung memanjat panggung tempat pisang diletakan.
Sementara Orang Utan yang lainnya menyinkir turun.

Sejenak ia mengambil Wadah Susu, dan meminum sisa-sisa susu yang masih ada. Anaknya seperti ketakutan, erat memeluk punggung induknya.
Orang Utan yang sudah tua renta da kurus ini adalah Ibu si Tom, si raja Camp Leakey yang ditakuti dan dihormati. 
Ibu Si Tom, kurus dan tua.

Si Raja yang Legendaris, Kosasih :
Setiap geneerasi dalam lingkungan Orang Utan, ada seorang Raja nya. Dia berbadan besar, kuat, tak terkalahkan oleh yang lainnya, dan mempunya pasangan betina yang banyak.

Sebelum Si Tom berkuasa, Raja yang kauat dan Legendaris di Wilayah Camp Leakey adalah Kosasih. 
Berbadan besar, kuat,  bermuka menyeramkan.

Kosasih dengan muka seramnya.

Lama si Tom ditunggu tidak muncul, namun tak juga datang.  Hari semakin mendekati senja, kamipun segera pulang menuju Perahu, karean atraksi alam sepanjang perjalnan pulang menunggu.

Jalan pulang kami tidak melalui jalan setapak sebelumnya, tetapi jalan yang memang disediakan untuk pengunjung. Jalannya lebih jelas, lebar, diantara rerimbunan dan melewati hamparan tanman perdu.
Monyet dan Babi hutan dengan jinaknya tak menghiraukan kehadiran kami di sepanjang jalan pulang itu.
 
Rimbun terlindung,hamparan tanaman Pakis Hutan diantara rimbunnya hutan.

Sesampainya di dermaga, si Siswi menyambut. Ia dengan manja tiduran. Elusan tangan kami membuat ia semakin manja. Sebuah keakraan sesama mahluk Tuhan di tengah kedamaian alam.


Manjanya si Siswi.
 
Usai Ashar, Perahu  kembali menyusuri Sungai Sekonyer, menuju pulang. Angin meniup pohon-pohon, Perahu dengan tenang menyusuri sungai yang sempit. Air sungai yang bening, menarik untuk direnangi. Tapi sayang karena sudah beberapa pengunjung yang berenang menjadi santapan Buaya, maka kini tak diperbolehkan lagi berenang di sungai ini.

Hasrat ingin menyentuh airnya dan mengguyur tubuh dengan airnya sore itu begutu kuat.  Iwan, sang asisiten Kampten kapal mengambil air dan mengumpulkan di bak kamar mandi. Sore itu aku tuntasakan hasrat mengguyurkan air sungai Sekonyer  ke tubuhku, mandi.

Danau Buaya kami lewati. Tak lama dari Danau itu  kami sampai petigaan, petemuan dua sungai yang airnya berbeda warna. Air sungai disisi kaknan kamki berwaran coklat, keruh, karena polusi Pertambangan Emas liar di hulu sungainya.
Air dari sungai yang kami lalui, bening karena dari alam yang masih terjaga keasriannya. Tidakah manusia berfikir akan hal ini ?
Si Hidung Panjang, di ujung senja

Matahari semakin jatuh ke barat. Waktu berbagai binatang untuk kembali ke sarangnya. Sepanjang kiri kanan sungai telihat atraksi berbagai binatang yang kembali ke sarangnya.

Di sauatu tempat, sang asisiten Kapten Perahu yang menguasai berbagai jenis Burung berteriak : “ tuh...tuh tuh...burung langka” sambil tangannya menunjuka ke dua ekor burung yang bertengger di pucuk pohon tua yang sdh tidak berdaun.  Sambil ia langsung  menjelaskan jenis burung tersebut.
Jelang senja, saat berbagai binatang kembali ke kandang alamnya.

Di tepi sungai lainnya, segerombolan monyet Hidung panjang, yang khas hidup di daerah ini belompatan diantara Pohon, berebut tempat bermalam. Monyet-monyet kecil memenuhi hampir setiap dahan pohon.

Perahu kami berjalan tenang, matahari semakin akan meninggalkan cakrawala, meninggalkan semburat langit kemerahan.  Semburatnya jatuh di permukaan air sungai, bagai kaca ia memantulkannya, sungguh menjadikan  lukisan indah goresan sang Pencipta.
( Sambil merenung diri, sampai kapan aku akan menyaksikan keindahan ini ? ).


Semburat merah langit semakin hilang, gelap, hitam menggantikan. Sungai sepi, hanya suara mesin perahu dan ombak kecil yang terdengar.  Lampu-lampu kapal dinyalakan. Sisa purnama samar-samar mulai terlihat.

Di suatu temat terlihat satu Perahu yang ditumpangai empat orang Kakek-kakek dari Belanda ya g bertemu kemarin, berhenti di tepi sungai yang gelap itu.

Kiri akan sungai didominasi Pohon Pnadan hutan, tanaman khas yang tumbuh di muara sungai, menjelang laut.

Tiba-tiba Sang Kapten perahu memperlambat laju perahu. Perahu menepi ke arah sisi kanan sungai. Dengan sigap asisten perahu menambatkan tambang perahu di pohon Pandan yang kuat.
Lampu perahu dipadamkan, gelap.
Wah... Perahu mogok, pikirku.

Belum rasa kepenasaran itu terjawab, guide kami, Dede, muncul :
“ Lihat itu di pohon-pohon “ sambil menunjuk ke sisi kanan kami.

Subhanallah, Pohon –pohon n=itu berkilauan, dipenuhi oleh ribuan Kunang-kunang  !!!
Ditengah kegelapan, kehening alam, suatu keindahan alam yang mempesona, sajian Yang Maha Pencipta !

Masih dalam kekaguman melihat keindahan cahaya kunang-kunang, Si Bibi Iyot  muncul diikuti guide dan kapten kapal, membawa beberapa piring masakan.
“ Mari makan malam “ , sambil menuju ke bagian  belakang Perahu, diatas meja  berpenerangan Lilin.

Sambil menikmati makan malam yang lezat, ditengah kegelapan malam yang hanya berpenerang cahaya Lilin, sambil menyaksikan ribuan cahaya kelap-kelip Kunang-kunang, jadilah malam itu menjadi Candlelight Dinner yang tiada tara nikmat, indah dan berkesan.
Menambah lengkap kenikamatan keindahan perjalanan menembus Amazon nya Indonesia, sisa hutan dan alam pedalaman Pulau terbesar  negeri ini, Borneo.....
( terbersit rasa khawatir, ditengah kepungan keangkuhan dan keserakahan nafsu perusakan alam, sampai kapan kedamaian alam negeri ini akan lestari ? )....