Thursday, March 26, 2009

HENING PAGI RANCAUPAS


Malam kulewati dengan ceria canda sesama kawan, ditemani hangatnya api unggun. Sinar bulan keperakan jatuh pada butir-butir embun diatas hamparan rerumputan.Jelang api unggun mendekat padam, dingin dan kabut tengah malam Bumi Perkemahan Rancaupas mulai menusuk tubuh, kelepaskan malamku menuju mimpi.Usai salam akhir Subuhku, sisa kantuk masih menggelayutkan mata untuk tertutup kembali. Tapi ah…! Apa bedanya kalau begitu dengan hari-hari liburku ditumah..?!

Aku sibakan pintu tendaku, Subhanallah ! Di depanku terbentang lukisanNya yang indah.
Temaram sinar mentari pagi, menerobos hutan, sinarnya memendar kala jatuh pada batang-batang pohon.

Sinar kemerahan menembus kabut tipis dan embun pagi yang masih enggan meninggalkan ilalang. Hening, sinar mentari pagi kemerahan, kabut tipis putih diantara ilalang, adalah lukisanNya untuk membuka hariku pagi itu....!!
(Momon S. Maderoni)


Menyapa Air Terjun Cibeureum

Pada pintumu, kini, tak ada jejak tapakku pada tanah yang basah, kerna tak ada lagi jalan setapak beralas tanah. Aku tak menyentuh embun pada hamparan rumput seperti dulu.

Pintu Gerbang Taman Nasional Gn Gede Pangrango

Kini, dipintumu, sesak dada dan nafas yang tersengal kala menjejak langkah, terasa sangat berat. Jejaknya meninggalkan alur dalam, mengalir dalam bhatin yang semakin pasrah, aku tak sekuat dulu !

Tapak demi tapakku mengayun langkah, dibawah bayang pohon yang kini aku rasa semakin mudah menatap langit, karena batang-batang yang patah
.



Route Pendakian Gunung Gede Pangrango

Anggrek hutan pada batang pohon, kini langka tertemukan, pada tatap tengadahku. Hei burung-burung, pada titik pertigaan dimana dulu kita sering bersua, mengapa engkau tak menyambutku ? Tak betahkah engkau disini ? Dimana rimbun dan jumpa pagi menyatu membuka hari ?

Shelter pertama masih kokoh, tempat dimana ia memeluk rapat aku dalam lelah pendakianku.

Telaga ? Ah...engkau masih seperti dulu, diam, sunyi, dan wangi mistis ditepimu !
Ada sisa-sisa jembatan disisimu, mungkin agar kami bisa meraksuk masuk menyisir mistismu. Dan....air bening masih mengalir disini, walau iramanya tak sederu dulu. Pada parit-parit kecil, beningnya menghiasi samar-samar bebatuan di dasarnya, meninggalkan lukisan alam pada bathin-bathin para pendaki, mengalir dingin. Mengalirlah pada kerongkongan kami, mengusir nafas-nafas lelah dan dahaga.

Memasuki Rawa Panyangcangan

Lepas Telaga, hamparan jalan jembatan kayu membentang membelah rawa, menyambutku, membawa langkah melayang diatas hamparan perdu-perdu rawa. Aku berdiri ditas ketelanjangan keindahan rawa, pada sebuah ceruk mangkuk berlatar kabut tipis, disela hijaunya pohon-pohon besar.
Berdiri di ceruk mangkuk Rawa Panyangcangan, dalam kenikmatan keindahannya, aku teringat ada yang hilang. Hilang...hilang...!!! Aku menyusur waktu lalu, dalam ingatanku yang semakin uzur.

Oh...,aku kini berdiri disini, aku ditinggalkan gelap dan rimbun perdunya, dingin airnya, ayunan langkah kakiku dalam jejak ujung-ujung batu yang tersembul diantara lumpunya, aku kehilangan, aku kehilangan semuanya..!!

Lepas Telaga, dulu, aku langsung terpeluk rimbun perdu Rawa Panyangcangan. Kaki-kali lelahku menyusur lumpur. Pacet, sang Lintah penghisap darah, adalah pelengkap rimbun dan lembabnya Rawa Panyangcangan, Jejak-jejak kaki telanjang sang petualang jadi santapan sang Lintah.

Rimbun Terlindung, di Ceruk Lembah





Buih putih, dan irama air yang mengalir pada sungai kecil, melepaskanku diujung Rawa Panyangcangan. Shelter Panyangcangan menyambutku dengan riuh canda para pendaki. Pertigaan jalan setapak, antara tebing dan lembah di Panyancangan mengingatkanku akan canda-canda ceria kala muda, dengan nafas yang berbaur mengembus kabut. Saat nafas keluar, Mulut-mulut kami seperti sedang mengeluarkan asap !


Dalam perenungan menyusiri ingatan waktu, di pertigaan jalan ini, 29 tahun lalu, aku lebih sering memiilih jalan kekiri, menuju puncak gunung. Dalam badan yang semakin tak berdaya, kini aku memilih ke kanan, menuju air terjun

Pada tepi-tepi kali menuju air terjun, pohon-pohon Honje masih terlihat diantara rimbunnya pohon-pohan besar.

Usai turunan dari pertigaan Panyancangan, aku kembali melintas jembatan hamparan kayu seperti jembatan di Rawa Panyangcangan. Tak lama debur air terdengar. Gemanya mengisi sepinya alam.

Air jatuh bebas, sinar mentari jatuh pada perciknya, pantulnya bagai kristal yang tak henti mengalir. Tawa canda anak berbaur dengan debur air jatuh.

Air Terjun Cibeureum I


Kuhempaskan lelah dibawah Shelter. Tatap mata pada bening dan percik air, sambil menikmati nikmatnya makan siang, suap demi suap kupenuhi demi sejengkal perut yang menagih.

Kususuri jalan licin berbatu, pada rimbun dilembah yang masih seperti dulu. Pada air terjun kedua, kutengadah pada pusat jatuhnya air. Sinar mentari siang, membentur tepi tebing, disela pucuk pohon.

Air Terjun Cibeureum II
Kakiku gemetar ketika turun menuju Air Terjun ketiga. Suasana terasa senyap, air bening mengalir pada kali-kali kecil, melewati batu-batu kecil, membelah area terbuka tempat berkemah. Pada sudut yang menyempit, dinding-dinding tebing berlatar hijaunya daun, air yang jatuh membuyar, menutupi ceruk tebing, seperti kabut yang tak kenal henti !

Cipratan airnya menyadarkanku akan kekerdilan hidup. Menerawang pada jejak langkah 51 tahun didunia. Ah... mungkinkah ini kali terakhir aku menyapamu , Cibeureum. ?

Air Terjun Cibeureum III


Langkah-langkah kaki yang lelah, pasrah pada usia, kususuri jalan kembali, menuju Cibodas.
Kantor PHPA Taman Nasioanal Gn. Gede Pangrango
Kantor PHPA (Perlindungan danPelestarian Alam) Taman Nasional Gn. Gede Pangrango


Di pintu Cibodas, kutatap kembali puncak-puncak Gunung Gede dan Pangrango. Meninggalkan tanya yang tak terjawab : Akankah aku larut dalam dinginnya kabut dipuncakmu ? Seperti dulu.
Dalam peluk dingin kabutmu, luluhlah keangkuhanku
!

( Momon S. Maderoni )


Catatan Perjalanan
Mengejar Mentari

Menatap Jejak-jejak kaki yang Lelah.

Jelang tengah February, 2009 , lebih dari setengah abad jantungku telah dan sedang berdetak.

Suatu paruh perjalanan anak manusia yang semakin mendekat ke detik akhir. Jalan panjang yang berliku, naik, turun, lurus, kadang membelok tiba-tiba, yang kadang kulupa mengerem, telat menghentak gas, atau memacu kecepatan tanpa peduli sekitar, aku lalui di jenjang lebih setengah abad usia.

Sisa hidup yang kudapat dari perjalanan, kadang kusimpan hanya layak menjadi miliku sendiri, namun kadang ada cerita yang perlu untuk berbagi, untuk diambil makna dan pelajaran bagi sesama.

Disinilah perjalanan laluku, kurangkai kembali dalam deret kalimat dari jejak-jejak kakiku yang lelah.

Aku bertutur tentang penjelajahan pada liku-liku rasa, karsa, fikir, yang terlingkup dalam benak yang tak kenal batas.

Dalam lelah penjelajahan, kutatap kabut yang menggantung diantara rimbunnya hutan, luluhlah keangkuhanku..!

Kucium bumi negeri ini, bagai mencium nafas hidup dan wangi kematianku. Tuhan, terima kasih telah kau berikan aku waktu, untuk menjelajahi kenangan pada deretan tapak jejak-jejak kakiku, diatas rumput jalan setapak, di bumiMu yang maha indah, aku menjelajah, mengembara......... MENGEJAR MENTARI..!

(Momon S. Maderoni)