Thursday, August 1, 2013

TAPAL BATAS BEKASI - KRAWANG

Wajah-wajah menatap heran, mungkin menganggap aku tidak waras.

Barangkali itu tatapan anak-anak Sekolah, Penjaga Apotik, orang-orang yang saya temui dalam perjalanan bersepeda seorang diri kali ini, yang ku anggap adalah kegiatan biasa, wajar.

Usai Subuh di Musholla di ujung komplek rumah, segera membereskan sisa "persiapan" perjalanan bersepeda seorang diri hari itu.

Dua Tas Sepeda sudah terpasang di boncengan depan - belakang. 
Pakaian pengganti, spare part dan tools sudah bersembunyi nyaman menempati ruang Tas itu. 
Tinggal tas belakang belum terisi makanan ringan dan minuman ringan yang rencananya diisi saat melewati Warung.

Jam menunjukan pk. 6.30 pagi ketika kaki yang sudah berusia 55 tahun ini mulai menggenjot pedal meninggalkan rumah. Rencana perjalanan Jatibening - Bekasi - Babelan - Cabangbungin -  Bakti Jaya - balik lagi melalui  Cikarang.

Dianggap Laler yang perlu diusir  dari jalanan :
Cuaca cerah, udara pagi cukup segar.
Menjelang masuk kota Bekasi, di jalan utama yang empat jalur itu, ada sejengkal lebar disediakan untuk Sepeda. 
Tapi sepanjang jalan itu, tetap saja Penggoes Sepeda dianggap "Laler" yang gampang dipepetkan, bahkan beberapa kali Pengendara Motor seenak udelnya melawan arus di jalur Sepeda..!

Dari Bekasi mengambil route ke Babelan, di beberapa tempat harus mengalah karena sedang enak-enaknya melaju Angkot dengan seenaknya berhenti di depan kita..!

Sawah dan Jalan Beton :
Di Pasar Babelan, perbekalan makanan ringan dan minuman baru mengisi di sisa sela-sela ruang Tas bagian belakang.

Sebelum membelok ke arah Cabangbungin / Muara Gembong, sebelum Jembatan yang melintas di atas Sungai yang cukup lebar, terlihat sekelompok Pesepada dgn pakaian lengkap penuh Logo layaknya



pembalap Professional sedang kumpul istirahat di warung, dipojok pertigaan.

Mampir sebentar untuk bergabung beristirahat. 
Mereka nampaknya sedang ngobrol terutama topiknya "harga perlengkaan dan Sepeda".

Segelas Teh hangat cukup menyegarkan dari Warung itu. Mereka masih sibuk dengan obrolan tentang harga dan route mereka, yang konon sering nyoba berbagai Trek untuk MTB.

Setelah beberapa saat baru dari mereka bertanya tentang tujuan ku.
" Semampunya kaki saja, maunya ke Candi Jiwa, kemudian muter pulang ke Cikarang ".
" Berapa orang " tanyanya lagi.
" Sendiri ".

Obrolan berikutnya saya tidak terlalu antusias menjawab serius, karena nanya soal biaya "ngebangun" Sepedaku. Aku paling males kalau "nuansa harga" jadi pembicaraan yang nantinya tergambar "mahal itu hebat".

" Sepeda saya ini murah, liat saja, depan belakang nggak pakai per ", ringan saja jawabku sambil disusul pamit meninggalkan mereka.

Jalan berikutnya berupa jalan beton yang mulus, melalui beberapa Perkampungan yang tidak terlalu rapat rumahnya. Kampung berselang seling dengan hamparan Sawah yang menghijau.

Jalan beton mulus, hamparan sawah hijau menjadi hiburan tersendiri sepanjang jalan antara Babelan dan Cabangbungin. 
Sebuah "kehidupan industri"  satu satuya adalah adanya Pengeboran Minyak dengan cerobong api abadinya yang menyala menjulurkan lidah api.

Melintas Batas :
Di pertigaan Cabangbungin, di depan Pos Polisi, jalan terbelah dua arah, ke kanan menuju Ciakarang, ke kiri menuju Muara Gembong.
    
Setelah istirahat yang diisi obrolan ringan dengan Tukang Ojek, diatas dipan di teras warung itu, usai meneguk Air Kelapa Muda, aku pamit dengan mengarahkan Sepeda ke kanan.

Hanya dalam ukuran ratusan meter dari warung itu, tidak jauh dari Kantor Lurah, ada jalan tanah menuju tepian Sungai Citarum.

Sepeda dengan setia menapaki jalan tanah itu dan nanjak. Diujung tanjakan, hamparan tanggul Sungai yang lebar. 
Disinilah saah satu tempat penyeberangan yang penduduk setempat menyebutnya "Eretan".
Karena fasiltas penyeberangannya berupa Perahu yang dipasang Eretan (Tarikan) dengan Kawat baja yang terikat kuat di kedua tepian Sungai.

Sungai ini adalah Sungai Citarum, sebuah Sungai besar yang mengalir memanjang , sepanjang bentang alam tanah Priangan. Dari mulai Bandung, Cianjur, Purwakarta  dan berakhir muaranya di pantai utara.
Sungai ini juga menjadi pembatas wilayah Bekasi dan Karawang.  

Sepeda kunaikan diatas Perahu Eretan itu, bersama motor tukang Pengumpul Telor Bebek.
Dengan tangan yang terlihat urat-urat ototnya, Tukang Perahu memutarkan arah Perahu. Badannya miring, mengimbangi gerakan arah Perahu, semakin terlihat jelas otot dan peluh yang jatuh dari Tukang Perahu itu.

Dalam hitunga waktu yang tidak terlalu lama, perahu sudah menepi. Dan kini aku berada di wialayah Karawang.

Lembaran uang yang kuberikan ke Tukang Perahu, berkali kali diasambut dengan ucapan terima kasih.

Rimbun Kampung :
Lepas dari Perahu, kini roda Sepeda menapaki jalan tanah yang diselingi hamparan kerikil batu, di kiri kanan pohon rimbun dengan rumah rumah asli penduduk, yang sesekali terdengar Lagu Dangdut dari siaran radio lokal.

Ujung jalan ini adalah jalan Desa yang cukup besar yang menghubungkan antara Batu Jaya dan Pantai Pakis.
Aspal rusak menjadi santapan ban Sepeda menju batu Jaya. Tidak lebih dari 2 km, ada pintu gerbang dan plang penunjuk : Candi Jiwa.


Selembar Rp. 10.000,- diterima dengan penuh terima kasih oleh penjaga pintu Komplek Candi Jiwa, setelah aku menulis di Buku Tamu yang disediakan bagi pengunjung.

Roda Sepeda kini melintasi jalan cor semen yang sempit yang hanya cukup lebar untuk satu Sepeda.
Jalan cukup tinggi melintasi kiri kanan sawah. sSalah-salah keseimbangan badan, bisa jatuh ke sawah yang lumayan tinggi dari atas sepeda.!

Candi Jiwa yang mungkin bagi sebagian awam hanya berupa tumpukan Bata merah tua, kini ada di hadapanku. Namun bagi para ahli, dari sinilah akan mengungkap kehidupan lampau kita, kemajuan dan budayanya.

Candi yang satu ini "konon" hanya salah satu Situs dari lebih 20 Situs Sejarah yang bertebaran di wilayah tersebut.

Diantara hamparan Sawah yang Hijau, kehadiran Candi ini begitu kontras dengan warna merah bata-batanya.

Mimik-mimik  Heran :
Usai berfoto, kembali dengkul menggenjot pedal Sepeda kembali kearah Pintu masuk. Sebelum pintu masuk,  sekelompok Pemuda dan Pelajar beristirahat, berkumpul mengelilingi Pedagang minuman dan makanan kecil di salah satu sudut tikungan.

Dua Pelajar usia SMP yang membawa Sepeda Motor, menampkan  wajah terheran-heran ketika mengetahui aku bersepeda seorang diri dari Jatibening.  
Wajah-wajah "keheranan" yang sering aku temui di setiap mampir beristirahat dalam setiap perjalanan.
Padahal tidak ada yang perlu di herankan, dulu saat aku seusia mereka, kegiatan bersepada jauh adalah "menu anak-anak kampung" setiap hari.
Sekarang mereka lebih akrab ber motor walau cuma berjalan sejengkal di kampung mereka..!  Ironis..!

Kumpulan Artefak :
Sepeda kuarahkan ke Musium kecil tempat menyimpan berbagai Artefak yang ditemukan dari sekitar Situs tersebut. 
Lembaran uang kecil sekedarnya diberikan di pintu masuk, sekalian mengisi buku Tamu.

Di gedung yang cukup bersih dan terawat ini terkumpul berbagai bukti sejarah, temuannya, dari mulai Gerabah, Meriam Kuno sampai Kerangka Tulang Manusia.



Usai istirahat dan makan siang di warung yang tak jauh dari Candi, ban Sepeda kembali berputar di aspal siang yang panas menuju  Batu Jaya.


Kembali Melalui Cikarang :
Matahari tepat diatas ubun-ubun, panasnya bukan alang kepalang. 
Sebuah Mesjid yang belum jadi menjadi tempat istirahat siang dan "menghadapkan diri" pada Sang Maha Kuasa siang itu.

Di Pasa Batu Jaya, kembali menangkap wajah keheranan mendengar perjalanku.
Kali ini yang terheran-heran seorang anak muda Pelayan Apotik yang melayaniku membeli Masker. 
Dari Jatibening ? Sendiri ? Jauh amat ? Jam berapa berangkat ?
Pertanyaan serupa sering dilontarkan pasa saat perjalanan "goes sendiri" selama ini.

Sebuah Jembatan yang cukup panjang, kondisinya masih relatif baru,  melintang Sungai Citarum yang mambawaku kembali ke wilayah Bekasi.

Di ujung jembatan, jalan panjang, membelah Pesawahan. Puluhan  km aku melintas diatas jalan aspal yang panas, dibawah terik matahari yang teramat panas siang itu. 

Jelang Ashar ditengah sisa tenaga, masuk ke kota Cikarang. Sebuah Minimarket menjadi pilihan untuk sekedar sesaat "mendapat udara dingin AC" sambil meneguk sebotol minuman ringan.

Jalan selanjutnya adalah jalan lama Jakarta - Cirebon jalur Pantura.  
Sajian kemacetan, polusi, menjadi tantangan di tengah-tengah sikap yang tak peduli dari para Pengendara Kendaraan Bermotor.

Waktu jelang adzan Isya, roda Sepeda kembali mengjinak jalan pintu masuk Komplek perumahan tempat tinggalku.

Bada dihempaskan di sudut Saung dihalaman belakang rumah. 
Segala "kelelahan hari itu terkalahkan, terobati " pengalaman perjalanan goes sendiri hari itu......  

( bukan seberapa jauh nya berkendara, bukan pula seberapa banyak kampunag yang dilewati, tetapi seberapa jauh perjalanan itu dapat meluluhkan keangkuhan diri, dan menyadarkan betapa "kekerdilan diri:" ditengah hamparan alam yang maha luas, ciptaan Sang Khalik, Sang Maha Kuasa.)








2 comments:

  1. Diksi ny bagus pa momon,jadi enak baca nya,, menarik sekali,,sangat setuju dengan kata-kata penutup nya,,saya pun merasakan sensasi yang sama ketika mulai menempuh suatu perjalanan,,, ^^
    salam kenal..

    ReplyDelete
  2. Mas Arli Ramdan, terima ksih sudah mampir ke Rumah Kata. Terima kasih komentarnya. Semoga suatu saat bisa bertemu dalam perjalanan bersama.

    ReplyDelete