Saturday, July 27, 2013

JEJAK SEJARAH YANG TERLUPAKAN


Ketidak sabaran, keberanian dan semangat sebagian Pemuda negeri "membawa" para Pemimpin, Tokoh Perjuangan Negeri ini ke rumah sederhana di sudut kampung Rengadengklok.
Maka, malam sebelum hari Kemerdekaan negeri ini, para tokoh pendiri Bangsa berkumpul dan bermalam di rumah ini.
 
          Rumah Kemerdekaan, Rengasdengklok

Mereka mempersiapkan untuk sebuah moment penting, prosesi, pernyataan pada dunia, menujukan pada dunia, lahirnya bangsa ini, "MERDEKA".

Sebuah moment, peristiwa yang sangat penting, lahirnya negeri dari "cengkeraman 3,5 abad dalam genggam tangan para penjajah".

Namun sayang, tempat sejarah ini masih tetap tersudut di sebuah Gang, sudut kampung di Rengasdengklok, yang jauh dari perhatian anak negeri, dan perhatian para Pejabat yang duduk di negeri ini.
Perhatian kita tidak sebanding dengan "peran, dan sejarah, perjuangan pendiri bangsa di rumah ini dalam proses lahirnya sebuah negeri, Indonesia".

Suatu hari, salah satu anggota keluarga keturunan ketiga pemilik rumah ini pernah mengatakan, mau berniat menjual rumah ini.


           Ranjang yg ditempati Ir. Soekarno  ( duplikat )

Karena disatu sisi sebagai tempat penting perlu ditata, dirawat agar kondisinya seperti kondisi dulu para tokoh negeri ini singgah.
Disisi lain, berarti konsekwensinya, tidak bisa digunakan, ditempati untuk keluarganya sebagaimana umumnya rumah milik sendiri.

Bila jadi dijual, dan pembelinya menghargai sejarah, tentu tidaklah mengkhawatirkan.

Jalan menuju Rumah Kemerdekaan, di sudut kampung Rengasdengklok.

Lalau bagaimana jika pembelinya tidak peduli sejarah? Diratakan, diganti untuk bangunan kepentingan lain?

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya, begitulah pepatah yang selalau didengungkan.
Ternyata hanya sebuah "semboyan yang di kejalankan (dibuat spanduk dipinggir jalan)", dan bukan "semboyan yang dijalankan"......

No comments:

Post a Comment